Produksi jagung mencapai 10 ton per hektare, program Rutan Situbondo dinilai berdampak pada ketahanan pangan, keterampilan warga binaan, dan pemberdayaan masyarakat sekitar.
SITUBONDO — Program ketahanan pangan yang dikembangkan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Situbondo bersama Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bondowoso menunjukkan hasil nyata. Keberhasilan pengelolaan lahan pertanian hingga menghasilkan panen jagung dalam jumlah besar menjadi salah satu alasan Perhutani menyatakan kesiapan untuk memperpanjang kerja sama dengan pihak Rutan.
Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbahul Munir, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan program yang dipimpin Kepala Rutan Kelas IIB Situbondo, Suwono. Menurutnya, pengelolaan lahan dengan dukungan sumber daya manusia yang terbatas dan anggaran yang minim mampu menghasilkan capaian yang patut diperhitungkan.
“Ya, kami siap untuk memperpanjang MoU bersama Rutan Situbondo. Karena kalau dihentikan, belum tentu lahan tersebut bisa dikelola seperti produksi tanaman jagung saat ini,” ujar Misbahul Munir, sebagaimana diberitakan dalam kegiatan panen jagung pada Kamis (15/10/2026).
Pernyataan tersebut menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan program kolaborasi antara sektor kehutanan dan pemasyarakatan. Kerja sama ini tidak hanya diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan pembinaan keterampilan bagi warga binaan.
Berawal dari lahan yang sulit dikelola
Kepala Rutan Kelas IIB Situbondo, Suwono, menjelaskan bahwa pelaksanaan program tidak langsung berjalan mulus. Pada tahap awal, pihaknya menghadapi berbagai kendala, mulai dari kondisi lahan yang dipenuhi semak belukar dan kayu berserakan hingga keterbatasan tenaga kerja, alat pertanian, dan sumber air.
Semula, Rutan ditawari pengelolaan lahan seluas satu hektare. Namun, Suwono mengusulkan agar luas lahan ditingkatkan menjadi empat hektare supaya program dapat dikembangkan secara lebih optimal.
Ketika usulan tersebut disetujui, tantangan baru muncul. Lahan yang tersedia harus dibersihkan dan dipersiapkan terlebih dahulu sebelum dapat digunakan untuk kegiatan pertanian.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Rutan membentuk tim khusus ketahanan pangan yang terdiri atas lima warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan dua pegawai Rutan. Tim tersebut bekerja secara rutin dengan dukungan tambahan dari salah satu orang tua warga binaan.
Proses pembersihan lahan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Tahapan ini menjadi pekerjaan penting karena kesiapan lahan menentukan keberhasilan kegiatan budidaya pada periode berikutnya.
Setelah lahan siap, kebutuhan traktor, sarana pengairan, benih, pupuk, serta obat-obatan pertanian juga harus dipenuhi. Melalui koordinasi dan dukungan lintas sektor, termasuk Dinas Pertanian dan pihak ketiga, kebutuhan tersebut akhirnya dapat diupayakan.
Panen jagung memberikan hasil nyata
Kerja keras yang dilakukan secara bertahap mulai membuahkan hasil pada panen perdana sekitar September 2026. Dari lahan jagung seluas kurang lebih tiga hektare pada tahap pertama, Rutan Situbondo berhasil memperoleh hasil panen sekitar 10 ton jagung.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan sumber daya tidak selalu menjadi penghalang apabila didukung perencanaan, kerja sama, dan pengelolaan yang konsisten.
Keberhasilan ini juga memperlihatkan pentingnya pemanfaatan lahan secara produktif. Dengan pengelolaan yang tepat, lahan yang sebelumnya sulit diolah dapat dikembangkan menjadi area pertanian yang memberikan hasil sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan.
Program tersebut diharapkan dapat dilanjutkan melalui pengelolaan lahan yang lebih terencana, evaluasi hasil produksi, serta penguatan dukungan sarana dan pendampingan teknis.
Hasil panen membawa manfaat sosial
Bagi Rutan Situbondo, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari jumlah jagung yang dihasilkan. Manfaat sosial yang dirasakan warga binaan dan masyarakat sekitar menjadi bagian penting dari tujuan kegiatan tersebut.
Suwono menjelaskan bahwa hasil dari panen perdana turut dimanfaatkan untuk sejumlah kegiatan sosial dan pembinaan.
Salah satunya adalah program bedah rumah bagi warga yang membutuhkan, dengan alokasi anggaran sebesar Rp20 juta untuk membantu perbaikan satu unit rumah.
Selain itu, warga binaan yang terlibat dalam kegiatan pertanian juga memperoleh premi atau upah kerja. Sebanyak 10 warga binaan menerima premi dengan besaran berkisar Rp1 juta hingga Rp3 juta per orang.
Kegiatan panen juga melibatkan sekitar 20 perempuan dari lingkungan sekitar selama tiga hari. Keterlibatan masyarakat tersebut menjadi bentuk partisipasi langsung dalam kegiatan produktif yang dikembangkan melalui kerja sama antarlembaga.
Dukungan sukarela warga sekitar juga diberikan dalam proses penyiraman tanaman dan pembersihan lahan. Partisipasi ini menunjukkan bahwa program pertanian dapat menjadi ruang kolaborasi yang melibatkan institusi pemerintah, mitra kerja, warga binaan, dan masyarakat.
Kanwil Ditjenpas Jawa Timur beri apresiasi
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, Kusnali, turut memberikan apresiasi terhadap pembentukan Tim Efektif Ketahanan Pangan Rutan Situbondo dan keberhasilan pengelolaan lahan hingga pelaksanaan panen raya jagung.
Menurut Kusnali, program tersebut merupakan bentuk implementasi program aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan, sekaligus selaras dengan program prioritas pemerintah.
Ia menilai pencapaian tersebut patut diapresiasi mengingat proses pengelolaan lahan yang luas pada awalnya hanya didukung oleh tim kecil. Melalui semangat, kerja keras, dan sinergi lintas sektor, lahan yang sebelumnya sulit digarap akhirnya dapat dimanfaatkan secara produktif.
Kusnali juga menekankan bahwa pembinaan warga binaan harus menghasilkan manfaat yang nyata. Selain memperoleh keterampilan budidaya tanaman, warga binaan yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut mendapatkan premi sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi dan kerja mereka.
Keberhasilan program ini bahkan menarik perhatian pimpinan pusat pemasyarakatan. Kusnali menyampaikan bahwa dirinya telah melaporkan kegiatan panen raya melalui komunikasi video dengan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pemasyarakatan. Kegiatan positif tersebut dinilai layak dipublikasikan secara luas sebagai bagian dari upaya menunjukkan hasil pembinaan yang produktif.
Perpanjangan kerja sama diharapkan memperkuat keberlanjutan program
Kesiapan Perhutani KPH Bondowoso untuk memperpanjang kerja sama dengan Rutan Situbondo membuka peluang bagi keberlanjutan pengelolaan lahan pertanian tersebut.
Ke depan, kesinambungan program perlu ditopang oleh pembagian peran yang jelas, pendampingan teknis pertanian, ketersediaan sarana produksi, pengelolaan air, serta evaluasi hasil panen secara berkala. Dengan demikian, program tidak hanya berhasil pada satu periode tanam, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang berkelanjutan.
Kolaborasi ini juga berpotensi menjadi contoh praktik pembinaan kemandirian yang menghubungkan pemanfaatan kawasan hutan secara bertanggung jawab dengan penguatan ketahanan pangan dan pemberdayaan manusia.
Suwono menyatakan bahwa pihaknya siap melanjutkan pengelolaan pada tahap berikutnya. Ia menyampaikan apresiasi kepada Perhutani, Bank BRI sebagai mitra kerja, Dinas Pertanian, media massa, dan masyarakat sekitar yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program.
Keberhasilan Rutan Situbondo memperlihatkan bahwa pembinaan pemasyarakatan dapat dikembangkan melalui kegiatan produktif yang memberikan keterampilan, penghargaan atas kerja, dan manfaat sosial. Dengan keberlanjutan kerja sama dan dukungan berbagai pihak, program ketahanan pangan ini diharapkan terus berkembang sekaligus memperkuat tujuan pembinaan warga binaan dan pemberdayaan masyarakat. ( Intel Publik )